Peta Bendera Negara Pengunjung

Free counters!

Daily Entry and all Arsips

Sabtu, 11 Juni 2011

6 Negara ASIA Serentak Gerebek 600-an Pejahat Internet (11.Jun)

Penipuan di China dan Taiwan
Ratusan Penjahat Internet Dibekuk
Benny N Joewono | Sabtu, 11 Juni 2011 | 10:36 WIB ; Dibaca: 17369 Komentar: 16


Maria Natalia bersama 177 WN Cina dam Taiwan yang ditangkap polisi karena dugaan melakukan 
penipuan lewat dunia maya dititipkan di Ditjen Imigrasi RI, Kamis (9/6/2011) malam.
JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian Negara RI sepanjang Kamis (9/6/2011) menangkap 177 warga China dan Taiwan yang diduga melakukan berbagai modus kejahatan transnasional melalui internet. Penangkapan ini merupakan bagian dari operasi internasional serentak di enam negara.

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar di Jakarta, Jumat (10/6/2011) sore, mengatakan bahwa para tersangka ditangkap di 15 titik tempat operasi mereka di sekitar Jakarta dan Tangerang. Mereka menyewa rumah yang dilengkapi jaringan internet pita lebar di berbagai kompleks perumahan mewah, seperti Pondok Indah dan Permata Hijau di Jakarta Selatan, Kelapa Gading dan Pantai Indah Kapuk di Jakarta Utara, serta Lippo Karawaci di Tangerang.

Penangkapan serupa juga terjadi di Malaysia, Kamboja, Thailand, China, dan Taiwan. Kepala Kepolisian Taiwan Wang Cho Chiun mengatakan, operasi serentak yang dilaksanakan dengan ekstrahati-hati tersebut berhasil menangkap 598 tersangka, yang terdiri dari 410 warga Taiwan, 181 warga China, 3 warga Thailand, 2 warga Korea Selatan, serta masing-masing 1 warga Kamboja dan Vietnam.

Semua negara mendapat informasi dari kepolisian China dan Taiwan tentang jaringan penipu yang beroperasi di negara masing-masing. Polri sendiri pertama kali mendapat informasi dari Departemen Investigasi Kriminal Kementerian Keamanan Publik China melalui Kedutaan Besar China di Jakarta, 19 Mei.

Menurut Boy, polisi sudah mulai bergerak menggerebek tempat-tempat operasi para penjahat ini pada 31 Mei, tetapi dihentikan atas permintaan kepolisian China. Pihak China menginginkan operasi di semua negara berlangsung serentak sehingga tidak ada risiko kebocoran yang bisa membuat para penjahat melarikan diri.
”Ini untuk pertama kali kepolisian Taiwan dan China menggelar penyelidikan bersama terhadap kasus-kasus di negara ketiga. Kami yakin ini akan menjadi contoh kerja sama pemberantasan kejahatan (antarnegara),” tutur Wang, yang mengatakan bahwa pihaknya mengerahkan tak kurang dari 800 polisi untuk menjalankan operasi ini.

Modus berbeda-beda

Para penjahat tersebut memanfaatkan jaringan internet dan telepon di negara tempat operasi mereka untuk menipu orang-orang di China, Taiwan, Filipina, dan Vietnam. Modusnya berbeda di setiap negara.
Kelompok di Malaysia menipu korbannya dengan mengatakan mereka telah melanggar rambu lalu lintas dan harus membayar tilang ke suatu rekening di internet atau menghadapi pengadilan.

Di Thailand, para penipu menggunakan dua taktik, yakni memberikan kejutan kepada korban dengan mengatakan mereka telah menang lotre atau menakut-nakuti mereka dengan mengatakan rekening bank atau kartu kredit mereka telah ditutup.


Menurut Boy, mereka memanfaatkan panggilan telepon melalui jaringan internet (VOIP) untuk menipu korban. ”Mereka berpura-pura dari perusahaan dan menawarkan jasa investasi. Orang yang tertarik kemudian mengirim uang,” kata Boy.

Dalam laporan Kementerian Keamanan Publik China yang dikirimkan kepada Polri tercatat tak kurang dari 300.000 kasus penipuan telah dilakukan sindikat penipu di Taiwan dan China ini dalam tiga tahun terakhir. Total uang hasil penipuan ini mencapai enam miliar yuan (sekitar Rp 7,9 triliun).

Pindah ke Asia Tenggara

Para pemimpin sindikat ini, yang berasal dari Taiwan, merekrut warga China untuk melakukan penipuan lewat telepon di daratan China dan Hongkong. Setelah operasi mereka digagalkan kepolisian China dan Taiwan, sindikat ini mulai memindahkan pusat operasi mereka ke kawasan Asia Tenggara sejak tahun lalu.

Menurut laporan China, pusat operasi sindikat itu saat ini diduga berada di Indonesia dan Kamboja. Sementara menurut laporan Taiwan, pusat operasi ada di Indonesia dan Malaysia.

”Di Indonesia, kami menemukan 106 kasus dengan nilai kerugian 7 juta yuan, sedangkan di Kamboja terdapat 84 kasus dengan nilai kerugian 14,4 juta yuan,” ungkap laporan China.
Boy mengatakan, sejauh ini belum ada laporan warga Indonesia yang menjadi korban penipuan sindikat ini. ”Kalau ada masyarakat Indonesia yang menjadi korban, maka yang bersangkutan diharapkan melapor,” katanya.

Sebanyak 76 warga negara China yang ditangkap di Indonesia akan dideportasi ke China, Sabtu ini. Mereka akan dijemput pesawat khusus yang dicarter kepolisian China di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Sementara itu, 101 tersangka asal Taiwan masih ditahan dan diperiksa di Jakarta. Semua tersangka masuk ke Indonesia menggunakan visa turis.
(WIN/FER/AP/AFP/DHF)

Penipu China dan Taiwan
6 Negara Serentak Gerebek 600-an Penipu

C. Windoro AT. | Benny N Joewono | Jumat, 10 Juni 2011 | 22:11 WIB ; Dibaca: 25023 Komentar: 30


TERKAIT:
JAKARTA, KOMPAS.com — Penggerebekan ke-177 penipu asal China dan Taiwan dilakukan secara serempak di Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan, Kamboja, dan China. Penggerebekan serentak tersebut diajukan oleh Kepolisian Republik Rakyat China (Kepolisian RRC).

Demikian disampaikan Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Boy Rafly Amar saat dihubungi, Jumat (10/6/2011) pukul 21.45 WIB.
Ia mengungkapkan, atas permintaan polisi China, Selasa (31/5/2011), Polri telah melakukan penggerebekan terhadap sejumlah lokasi yang dijadikan "kantor" oleh para penipu tersebut.
Namun, polisi China kemudian meminta Polri tidak melanjutkan penggerebekan ke sejumlah "kantor" lainnya. "Mereka bermaksud melakukan penggerebekan serempak di enam negara, termasuk Indonesia. Hal ini dilakukan agar para pelaku tidak curiga dan kabur," tutur Boy.

Penggerebekan yang dilakukan sendiri-sendiri, lanjut Boy, akan membuat para penipu di negara lain tahu. "Oleh karena itu, polisi China meminta, penggerebekan dilakukan secara serempak. Begitu digerebek, yang pertama kali disita polisi adalah telepon genggam para pelaku. Hal ini untuk menghindari mereka berkomunikasi dengan kawan-kawan mereka," ujarnya.

Penggerebekan dilakukan sejak Kamis (9/6/2011) pagi hingga sore hari di enam negara seperti disebut sebelumnya. Di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, polisi menggerebek "kantor" para penipu di 15 lokasi.
Dalam penggerebekan tersebut, kata Komisaris Besar Boy Rafly Amar, Polri mengerahkan 150 anggotanya yang berasal dari Polda Metro Jaya dan Mabes Polri.
Pada bagian lain, Boy mengatakan, Polri telah menyerahkan semua tersangka dan barang bukti kepada kepolisian China. Polri tidak akan mengajukan pemblokiran rekening para penipu yang disimpan di sejumlah bank di Indonesia.

"Yang akan mengajukan permohonan pemblokiran dana ke Bank Indonesia nanti adalah polisi China dan polisi Taiwan, bukan Polri, sebab ini menyangkut dana warga negara masing-masing," tuturnya.
Sebelumnya, Kementerian Keamanan Publik RRC menyebutkan, para penipu menyimpan dan menjalankan proses lalu lintas uang lewat sejumlah bank di Hongkong, Taiwan, Kamboja, dan Indonesia. Kementerian belum menjelaskan mengenai pemblokiran semua rekening para penipu tersebut.

Penipu China dan Taiwan
Kantor 177 Penipu Bayar PLN Rp 600 Juta

C. Windoro AT. | Benny N Joewono | Jumat, 10 Juni 2011 | 20:42 WIB ; Dibaca: 15386 Komentar: 20

S01-11 Rumah di cluster Puspita Loka BSD City Jalan Kana II No. 17 Sektor III.3, Lengkong Gudang, Serpong, digerebek polisi karena diduga menjadi tempat aktivitas penipuan via telepon.
JAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak 76 warga negara China yang menjadi tersangka penipuan lewat internet akan dibawa kembali ke China, Sabtu (10/6/2011) pagi. Mereka akan menggunakan pesawat sewaan yang disewa Kepolisian Republik Rakyat China (Kepolisian RRC).

Pesawat berangkat dari Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Ke-76 tersangka ini adalah bagian dari 177 tersangka warga negara China dan Taiwan.
Demikian disampaikan Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar, Jumat (10/6/2011) sore.

Ia menambahkan, sebanyak 101 tersangka warga negara Taiwan masih diperiksa dan ditahan di Jakarta. Ia membenarkan, ke-177 tersangka mulai melakukan aksinya di Indonesia selama setahun terakhir ini. Mereka masuk Indonesia dengan visa kunjungan wisata.
Di tempat terpisah, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Sutarman kepada wartawan menjelaskan bahwa 15 lokasi "kantor" para penipu ini ada di Jakarta Selatan (Jaksel), Bekasi, Tangerang, Jakarta Barat (Jakbar), dan Jakarta Utara (Jakut).

Ke-15 lokasi tersebut antara lain rumah di Jalan Cendana VII/15; rumah di Camar Permai IV/20; dan rumah di Johar Golf Cluster II/3, Pantai Indah Kapuk, Jakut. Rumah lainnya adalah di Bukit Hijau III/15 Pondok Indah dan rumah di Jalan Ametis IV/21G, Permata Hijau, Jaksel.
Ada pula yang berlokasi di rumah kawasan Gading Kirana Blok F1/40, Paradise IX, Blok F-15/13, dan rumah di Jalan Tampak Siring Indah nomor 2, Bukit Gading Villa, Kelapa Gading, Jakut. Rumah lainnya adalah di Jalan Celepuk I/27, Jati Makmur, Bekasi, dan di Taman Golf Nomor 22, Lippo Karawaci, Tangerang.

Karena mereka menggunakan perangkat internet berkapasitas besar, "kantor-kantor" mereka mengonsumsi listrik dengan jumlah sangat besar. "Setiap bulan, untuk setiap rumah, mereka membayar pemakaian listrik sampai Rp 40 juta," ungkap Boy.
Ke-177 tersangka ditangkap sejak Kamis (9/6/2011) pagi sampai sore. Dari tangan mereka, polisi menyita 121 telepon, puluhan komputer jinjing, handy talkie, paspor, 24 kartu penduduk China dan Taiwan, 28 kartu kredit Bank of China, uang tunai dalam bentuk dollar AS, rupiah, 5.600 yuan, 5 kamera, dan sejumlah catatan telepon.

Dengan lima bus, mereka dikumpulkan di satu lokasi, yaitu di Pondok Nirwana di Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Kamis pukul 23.00 WIB. Ratusan polisi tampak di lokasi tersebut.
Dari sana, mereka dibawa ke Kantor Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Pusat. Setelah diperiksa, mereka dibawa ke Rumah Tahanan Imigrasi di Kalideres, Jakarta Barat.
"Kelompok penipu ini mengontrak rumah dan memasang saluran internet dengan broadband berkapasitas besar sehingga bisa memasang beberapa saluran untuk berhubungan dengan telepon lewat internet dari Indonesia ke banyak korban di China dan Taiwan," kata Inspektur Jenderal Sutarman. "Yang menipu berada di Indonesia, sedang yang menjadi korban berada di Tanah Air mereka," tambahnya.

Para penipu ini memeras para pengusaha, bankir, serta pejabat China dan Taiwan dengan cara menuduh bahwa para korban terlibat narkoba dan pencucian uang. Karena tak ingin berurusan dengan hukum, para korban mentransfer uang sesuai permintaan para penipu. Para penipu asal China terdiri dari 26 pria dan 50 wanita, sedangkan yang berasal dari Taiwan terdiri dari 90 pria dan 11 wanita.

Penipu China dan Taiwan
177 Penipu Sikat Triliunan Rupiah


C. Windoro AT. | Benny N Joewono | Jumat, 10 Juni 2011 | 19:57 WIB ; Dibaca: 20157 Komentar: 15


TERKAIT:
JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian China mengungkapkan 177 tersangka menipu warga negara China dan Taiwan selama tiga tahun beroperasi di Jakarta dan sekitarnya. Mereka telah mencuri uang para pengusaha dan elite China senilai miliaran yuan atau setara triliunan rupiah. Aksi ini dilakukan menggunakan internet.

Demikian laporan Departemen Investigasi Kejahatan Kementerian Keamanan Publik China yang disampaikan Kedutaan Besar China di Jakarta kepada Polri tanggal 19 Mei 2011.
Dalam catatan disebutkan, terdapat 300.000 kasus penipuan lewat internet yang dilakukan sindikat penipu Taiwan-China. Jumlah uang panas yang mereka kumpulkan dalam ke-300.000 kasus penipuan tersebut mencapai 6 miliar yuan (setara Rp 7 triliun).

Kamis (9/6/2011), tim gabungan dari Mabes Polri dan Polda Metro Jaya menangkap 177 tersangka di 15 lokasi di Jakarta dan sekitarnya.
Dari 177 tersangka, sebanyak 101 orang adalah warga negara Taiwan, sedangkan 76 orang lainnya adalah warga negara China. Mereka ditangkap di Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Bekasi, dan Tangerang.

Aksi sindikat penipu ini telah mengganggu stabilitas sosial Negeri Tirai Bambu. Menurut Kementerian Keamanan Publik China, sindikat ini terdiri dari tiga kelompok.
Tiap-tiap kelompok bekerja sesuai fungsinya. Kelompok pertama adalah orang-orang yang menyiapkan fasilitas dan jaringan internet serta lokasi. Kelompok kedua adalah para operator penipu. Adapun kelompok ketiga adalah orang-orang yang mengurus transfer dana dan rekening.

Di Indonesia sejak tahun lalu

Anggota sindikat mulai mengembangkan sayap di sejumlah negara di Asia Tenggara sejak tahun lalu. Mereka beroperasi di Jakarta dan sekitarnya sejak Desember 2010. Di Asia Tenggara, mereka tinggal di Kamboja, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

Sasaran mereka adalah para pengusaha dan pejabat China. Para penipu ini memeras para pengusaha dan pejabat China dengan menuduh mereka terlibat perdagangan narkoba dan atau pencucian uang.
Dalam aksinya, mereka memanfaatkan perangkat lunak komputer VOS2009. Saat menjalankan aksinya, para penipu ini mengaku sebagai para penegak hukum atau pejabat China yang sedang menyelidiki kasus.
Beberapa warga negara China di China yang menjadi korban antara lain Yang Xingya, warga Chongqing. Ia ditipu 4 juta yuan (setara Rp 5,2 miliar). Ai Kenian, warga Yulin di Shanxi ditipu 2,56 juta yuan (setara 3,3 miliar). Li Dongyan dan Wangping, warga Xianmen, Fujian, ditipu 3,07 juta yuan (setara Rp 4 miliar).
Sejak Maret 2011, Pemerintah China membentuk tim gabungan untuk menyelidiki kasus penipuan lewat dunia maya ini. Tim melacak sinyal telepon dan rekening-rekening mencurigakan.

Salah satu di antaranya adalah milik Yang Heng, warga negara Taiwan, yang memasang server internet di Hongkong. "Catatan polisi China antara lain menunjukkan, ada dana sebanyak 35 juta yuan yang berasal dari ratusan warga di 31 provinsi di China," tulis Kementerian Keamanan Publik China.

Menurut Kementerian Keamanan Publik China, Indonesia dan Kamboja dijadikan "markas utama" para penipu. "Di Indonesia, kami menemukan 106 kasus dengan nilai kerugian 7 juta yuan (setara Rp 9 miliar), sedangkan di Kamboja terdapat 84 kasus dengan nilai kerugian 14,4 juta yuan (setara Rp 18,9 miliar)," lanjut Kementerian Keamanan Publik China.

Para tersangka yang ditangkap di Indonesia antara lain Anin Xiao Wang, Xiao Gaui, Yuan Qiang Ba, Yuan Hailu, Yuan Aga, Yuan Zhu Xi, Yuan Hainu, Yuan Teqin, Yuan Wianpi, Yuan Lie Ren, Yuan Aniu, Fusi, Shi Yi Ge, Zhao Cai Shu, Da Chuan, Ke Jia Ben Se, Heima, Txiqo Yang, dan Jin Ji.


Surat lain yang dilayangkan anggota Kepolisian Taiwan, Thomas Ying Tsung Yueh, kepada Kabareskrim Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi Djuni Sanyoto menunjukkan, para penipu menyewa IP dan sistem internet. Mereka menggunakan jaringan internet (VOIP).
Sistem ini mampu melakukan panggilan telepon ke banyak tempat. Mereka memanfaatkan rekaman telepon saat berkomunikasi dengan korban lewat internet. Para penipu mengaku dari perusahaan telepon, bank, kantor polisi, atau pengadilan.

Jika menurut polisi China, markas utama para penipu berada di Indonesia dan Kamboja; maka menurut polisi Taiwan, markas utama mereka berada di Indonesia dan Malaysia.
Di Indonesia terungkap sebanyak 15 lokasi dimanfaatkan sebagai pusat panggilan. Setiap lokasi menggunakan jaringan internet pita lebar dan mengonsumsi listrik dengan jumlah sangat besar.
Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by
 

Tidak ada komentar:

Check Harga & Booking Langsung Online, Jangan Tunggu Habis / Harga Naik?

Peta Rute, Harga & Booking Ticket Online ( klik kota asal & tujuan, terlihatlah )

Tweet Tentang #Bali #Indonesia