Perompak Somalia menolak jika mereka disebut perompak.
Kamis, 26 Mei 2011, 06:15 WIB ; Denny Armandhanu
VIVAnews - Perompak Somalia menolak jika mereka disebut perompak, mereka lebih memilih disebut sebagai 'penyelamat lautan'. Mereka juga tidak pernah membunuh seperti yang dibayangkan, mereka hanya membajak.
Pengakuan ini disampaikan oleh salah seorang perompak Somalia, Boyah, yang ditemui oleh salah satu wartawan Guardian, Rabu, 25 Mei 2011. Boyah yang menderita tuberculosis tinggal di peternakan, sekitar 15 kilometer dari luar kota Garowe, wilayah Eyl, Somalia.
Lelaki berumur sekitar 40an ini menolak jika dikatakan dia adalah perompak. Dia lebih memilih kata 'penyelamat lautan' karena aktivitas pembajakan yang mereka lakukan pada awalnya adalah untuk mengusir para perampok hasil laut di perairan Somalia pada tahun 90an. Pembajakan yang kini dia lakukan dianggapnya sebagai pembayaran pajak terhadap kapal yang melintas di perairan Somalia.
Boyah mengaku bahwa dia adalah kepala dari 500 perompak di kawasan itu. Dia membawahi sekitar 35 kelompok perompak. Boyah juga bertanggungjawab atas perekrutan para perompak. Salah satu kriteria yang ditetapkan oleh Boyah untuk seorang perompak cuma satu, "Dia tidak takut mati."
Boyah mengatakan bahwa dia telah membajak sekitar 25 kapal. Dalam pembajakan, Boyah mengatakan bahwa kelompoknya mengepung kapal sasaran seperti serigala mengepung mangsanya. Jika kapal sasaran tidak takut dan malah menyerang balik atau kabur dengan kecepatan tinggi, maka mereka menyerah.
"Hanya 20 sampai 30 persen upaya pembajakan kami yang berhasil. Hal ini dikarenakan mesin kapal kami kalah cepat dengan mereka, atau adanya campur tangan tentara," ujarnya.
Jika kapal sasaran tertangkap dan dibayarkan tebusan, uang berjumlah miliaran rupiah dibagikan ke berbagai pihak. Setengah dari tebusan, ujar Boyah, diberikan kepada para perompak. Sisanya diberikan kepada pemodal, yaitu orang yang memberikan kapalnya dan bensin untuk operasi perompakan, penjaga pantai, penerjemah, atau disumbangkan kepada orang miskin.
Kendati masuk dalam kategori pencurian dengan kekerasan, namun Boyah mengatakan bahwa mereka bukanlah orang yang berbahaya. Perompak, ujarnya, juga punya moral.
"Kami bukanlah pembunuh, kami tidak pernah membunuh siapapun, kami hanya menyerang kapal," ujarnya.
Boyah mengaku bahwa dia telah melakukan hal yang salah dengan melakukan pembajakan. "Kami sadar kalau kami salah. Kami juga sadar kami tidak lagi memperoleh dukungan masyarakat," ujarnya.
Dukungan yang meredup, jelasnya, adalah karena banyaknya delegasi dari pemerintah maupun tokoh-tokoh agama yang mengatakan bahwa tindakan perompakan adalah haram. Karena hal ini jugalah jumlah para perompak di Somalia semakin berkurang dan banyak yang memilih mencari pekerjaan yang halal. (eh)
Pengakuan ini disampaikan oleh salah seorang perompak Somalia, Boyah, yang ditemui oleh salah satu wartawan Guardian, Rabu, 25 Mei 2011. Boyah yang menderita tuberculosis tinggal di peternakan, sekitar 15 kilometer dari luar kota Garowe, wilayah Eyl, Somalia.
Lelaki berumur sekitar 40an ini menolak jika dikatakan dia adalah perompak. Dia lebih memilih kata 'penyelamat lautan' karena aktivitas pembajakan yang mereka lakukan pada awalnya adalah untuk mengusir para perampok hasil laut di perairan Somalia pada tahun 90an. Pembajakan yang kini dia lakukan dianggapnya sebagai pembayaran pajak terhadap kapal yang melintas di perairan Somalia.
Boyah mengaku bahwa dia adalah kepala dari 500 perompak di kawasan itu. Dia membawahi sekitar 35 kelompok perompak. Boyah juga bertanggungjawab atas perekrutan para perompak. Salah satu kriteria yang ditetapkan oleh Boyah untuk seorang perompak cuma satu, "Dia tidak takut mati."
Boyah mengatakan bahwa dia telah membajak sekitar 25 kapal. Dalam pembajakan, Boyah mengatakan bahwa kelompoknya mengepung kapal sasaran seperti serigala mengepung mangsanya. Jika kapal sasaran tidak takut dan malah menyerang balik atau kabur dengan kecepatan tinggi, maka mereka menyerah.
"Hanya 20 sampai 30 persen upaya pembajakan kami yang berhasil. Hal ini dikarenakan mesin kapal kami kalah cepat dengan mereka, atau adanya campur tangan tentara," ujarnya.
Jika kapal sasaran tertangkap dan dibayarkan tebusan, uang berjumlah miliaran rupiah dibagikan ke berbagai pihak. Setengah dari tebusan, ujar Boyah, diberikan kepada para perompak. Sisanya diberikan kepada pemodal, yaitu orang yang memberikan kapalnya dan bensin untuk operasi perompakan, penjaga pantai, penerjemah, atau disumbangkan kepada orang miskin.
Kendati masuk dalam kategori pencurian dengan kekerasan, namun Boyah mengatakan bahwa mereka bukanlah orang yang berbahaya. Perompak, ujarnya, juga punya moral.
"Kami bukanlah pembunuh, kami tidak pernah membunuh siapapun, kami hanya menyerang kapal," ujarnya.
Boyah mengaku bahwa dia telah melakukan hal yang salah dengan melakukan pembajakan. "Kami sadar kalau kami salah. Kami juga sadar kami tidak lagi memperoleh dukungan masyarakat," ujarnya.
Dukungan yang meredup, jelasnya, adalah karena banyaknya delegasi dari pemerintah maupun tokoh-tokoh agama yang mengatakan bahwa tindakan perompakan adalah haram. Karena hal ini jugalah jumlah para perompak di Somalia semakin berkurang dan banyak yang memilih mencari pekerjaan yang halal. (eh)
AL Rusia Beberkan Cara Hadapi Sandera Somalia
"Ada 29 orang perompak ditangani dan seluruh warga Rusia bebas dan dibawa pulang."
Rabu, 25 Mei 2011, 13:32 WIB ; Elin Yunita Kristanti
Perompak Somalia (Getty Images)
Terkait penyanderaan, Angkatan Laut Rusia akan menggelar seminar tentang cara pembebasan sandera oleh perompak Somalia. Seminar itu digelar dalam rangkaian kunjungan resmi armada Angkatan Laut Rusia yang menggunakan Kapal Perang Rusia, Admiral Panteyeyev, di Makassar.
Panglima Flotila Armada Pasifik, Colonel V. Sokolov, mengatakan, seminar ini pertama kali digelar di Indonesia dengan mengambil tempat di Makassar. Sebab, pelaut-pelaut Indonesia sering menjadi korban penyanderaan oleh kelompok perompak.
"Kami ingin berbagi pengalaman tentang cara mengatasi perompakan di laut, utamanya di Somalia. Kebetulan Indonesia juga sering mengalami penyanderaan di perairan Teluk Aden itu," ujar V. Sokolov kepada wartawan di Pelabuhan Peti Kemas Hatta, Makassar, Rabu 25 Mei 2011.
Ia menjelaskan, kapal Admiral Panteleyev yang membawa 300 pasukan ini merupakan kapal yang pernah bertugas di perairan Somalia guna menyelamatkan warga Rusia yang disandera oleh perompak 2009 silam.
"Saat itu, ada 29 orang perompak yang berhasil ditangani dan seluruh warga Rusia bebas dan dibawa pulang," tambah Sokolov didampingi komandan Let Col S. Kobar.
Selain seminar tentang anti perompakan, kunjungan ke Makassar merupakan kunjungan kerja sama antara Rusia dan Indonesia di bidang pertahanan laut. Pada acara tersebut, para marinir Rusia akan melakukan simulasi dengan KRI Oswald Siahaan 354 milik TNI AL.
Kapal Admiral Panteleyev lego jangkar di di terminal Peti Kemas, Jl.Nusantara, Makassar, Rabu pagi. Kapal itu didampingi kapal sipil jenis tunda, Fotiy Krylov. Kedua kapal akan berada di Indonesia selama tiga hari, dari tanggal 25 hingga 28 Mei mendatang. Dalam rombongan itu juga ikut serta Minister-Counsellor of the Rusian Embassy to Indonesia, S.Tolchenov, dan Deputy Defence Attache, Lt. Col M.Lukiyanov.
Rombongan marinir Rusia ini disambut oleh pejabat teras Lantamal VI Makassar, Kodam VII Wirabuana, Pangkoops AU II serta dari Polda Sulawesi Selatan dan Barat. Mereka menyambut para Marinir Rusia dengan mengalungkan sebuah bunga serta tarian tradisional asal Bugis-Makasar.
Informasi yang dihimpun, Kapal Admiral Panteleyev memiliki panjang 163,5 meter dengan lebar 19,3 meter. Kapal jenis buru selam ini memiliki kecepatan 29,5 knot perjam.
Laporan: Rahmat Zeena | Makassar
SBY: Beber Operasi Militer, Itu Setor Nyowo
"Saya menahan ini selama 2 bulan untuk tidak memberi penjelasan yang tak perlu," kata SBY.
Minggu, 22 Mei 2011, 17:36 WIB ; Ismoko Widjaya, Dedy Priatmojo
Presiden Yudhoyono mencoba senjata buatan PT Pindad
(ANTARA/Widodo S Jusuf)
"Atas nama pemerintah dan atas nama pribadi, saya mengucapkan terima kasih kepada perwira, bintara maupun tamtama dalam mengemban tugas negara. Tugas yang tidak ringan dan yang juga penuh ketidakpastian, tapi dapat dilaksanakan dengan baik. Kami bangga," kata Presiden dalam sambutannya di Markas Komando Lintas Laut Militer Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu 22 Mei 2011.
Menurut SBY, di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu dengan risiko tinggi dan faktor intelijen yang selalu berubah-ubah setiap saat, TNI mampu melakukan tugas dengan baik, meski lokasi operasi yang jauh dari Indonesia.
SBY juga menepis keraguan semua pihak atas kinerja pemerintah yang dinilai lambat terkait penyanderaan WNI di kapal Sinar Kudus oleh perompak Somalia.
"Ini kesempatan yang baik dan terbuka untuk didengar oleh rakyat Indonesia. Saya menahan ini selama dua bulan untuk tidak memberi penjelasan yang tidak perlu, karena saya tidak ingin prajurit yang sedang menjalankan tugas nyawanya terkorbankan," tegas SBY.
SBY menegaskan, di negara mana pun tidak ada operasi militer yang dibeberkan pelaksanaannya. Oleh karena itu, sebagai Kepala Negara, SBY menginstruksikan kepada jajarannya untuk tidak membocorkan dan hanya mengatakan semua opsi akan dipertimbangkan.
"Oleh karena itu, ketika dikejar pers, dikejar pengamat, dikejar politisi, saya katakan jangan bocorkan apa yang sedang kita lakukan. Itu sama saja setor nyowo," terangnya.
Sebagai penghargaan, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono memberikan kenaikan pangkat satu tingkat kepada komandan Satgas Merah Putih Kolonel Laut Ahmad Taufiqurrahman menjadi Laksamana Pertama TNI. (art)
SBY Sambut Satgas Pembebas Kapal Sinar Kudus
Terdapat tiga KRI yang mengawal Kapal Sinar Kudus.
Minggu, 22 Mei 2011, 15:23 WIB ; Nur Farida Ahniar, Dedy Priatmojo
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diapit Panglima
TNI dan Kapolri (Antara/ Widodo S Jusuf)
Pantauan VIVAnews. com, tiga KRI yang mengawal pembebasan MV Sinar Kudus di antaranya KRI Yos Sudarso 352, KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355, dan KRI Banjarmasin 592 yang merapat ke dermaga Kolinlamil sekitar pukul 14.30 WIB. Mereka memberikan penghormatan kepada Presiden SBY.
Presiden SBY lalu menerima hormat dengan didampingi Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, KSAD Jenderal TNI George Toisutta, KSAL Laksamana TNI Soeparno, dan KSAU Marsekal TNI Imam Sufa'at.
Satgas yang diberi nama Operasi Duta Samudera ini dipimpin Kolonel Laut Ahmad Taufiqurahman. Mereka berjumlah 480 personel yang terdiri atas tentara gabungan Kopasgat, Kostrad, Marinir, dan Kopassus.
Hadir dalam acara penyambutan Menkopolhukam Djoko Suyanto, Mensesneg Sudi Silalahi, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Menlu Marty Natalegawa, Menhub Freddy Numberi, Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo, Kepala BIN Sutanto, Sekab Dipo Alam, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. (art)
Sejak 1990 Nahkoda Sinar Kudus Lewati Somalia
"Saya baru pertama kali kena dirompak, padahal sudah empat kali melewati lokasi itu."
Minggu, 8 Mei 2011, 15:09 WIB ; Antique, Ronito Kartika Suryani
Keluarga Slamet Juhari, nahkoda kapal kargo Sinar
Kudus (VIVAnews/Beno Junianto)
Menurut nahkoda kapal, Slamet Juhari, ia mengaku baru pertama kali mengalami musibah perompakan di Somalia. Padahal, dari tahun 1990-an sudah melewati jalur Somalia yang terletak di wilayah Afrika Utara tersebut.
"Saya baru pertama kali kena dirompak, padahal sudah empat kali melewati lokasi itu," ujarnya saat ditemui VIVAnews.com di kediamannya, Ciledung, Tangerang, Minggu 8 Mei 2011.
Pada kesempatan itu, ia juga menceritakan perjalanannya hingga terjadinya perompakan. "Perjalanan kapal menuju ke Rotterdam, Belanda dimulai pada 29 Februari 2011. Namun, tanggal 5 Maret sempat ke Singapura hampir satu hari untuk mengisi minyak. Nah, pada 16 Maret kapal kena dirompak," kata Slamet.
Slamet juga mengatakan, kalau ia mengetahui kapal akan dirampok, karena diketahui ada kapal yang terus mengikuti Sinar Kudus. "Awalnya, saya tahu mau dirampok, karena kapal diikuti dari belakang," ujarnya. (adi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar