Peta Bendera Negara Pengunjung

Free counters!

Daily Entry and all Arsips

Kamis, 24 Maret 2011

Kenapa Pusat Kajian Bencana Alam ASEAN di Indonesia ?

Indonesia Jadi Pusat Kajian Bencana ASEAN  

ASEAN. TEMPO/Subekti
TEMPO Interaktif, Jakarta - Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) akan membangun pusat penanggulangan bencana atau ASEAN Human Assistance (AHA) Center di Indonesia. Menurut juru bicara wakil presiden, Yopie Hidayat, peluncurannya akan dilaksanakan pada Juni 2011.
“Kantornya di gedung BPPT,” kata Yopie seusai menemani Wakil Presiden Boediono menerima Sekretaris Jenderal ASEAN, Surin Pitsuwan, di kantor wakil presiden kemarin.

Yopie mengatakan AHA Center akan menjadi pusat kajian, mitigasi, dan pusat koordinasi dalam penanggulangan bencana negara-negara di Asia Tenggara. Indonesia dipilih karena dianggap memiliki banyak pengalaman dalam menangani bencana.

“Tim ASEAN ini yang akan terjun menganalisis dan melakukan pengkajian mengenai bencana, seperti di Jepang,” ujarnya.

Surin juga melaporkan mengenai 15 agenda ASEAN yang akan dilakukan di Indonesia, khususnya di Jakarta dan Bali, sehubungan dengan posisi Indonesia sebagai ketua ASEAN.

Salah satu agenda besar yang akan dilaksanakan di Indonesia adalah ASEAN Global Dialogue pada akhir 2011. Acara tersebut mempertemukan petinggi ASEAN dengan sejumlah petinggi organisasi tingkat dunia seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Bank Dunia, dan Organisasi Buruh Internasional (ILO). “Diharapkan Indonesia dan ASEAN bisa saling belajar,” kata dia.

Agenda besar lainnya adalah Konferensi Konektivitas ASEAN yang akan mengundang calon investor untuk membicarakan proyek konektivitas di negara-negara ASEAN yang terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan. “Nanti akan dibangun infrastruktur untuk menyambungkannya,” tuturnya.

l MUNAWWAROH

15 Negara Asia Bahas Kerjasama untuk Hadapi Bencana Alam

Para delegasi mengatakan perubahan iklim memperburuk bencana-bencana alam sehingga dibutuhkan kerjasama yang lebih besar.
Latihan menolong korban bencana yang diadakan di wilayah bisnis di Manila, Filipina sebagai bagian dari Program Persiapan Menghadapi Bencana.
Latihan menolong korban bencana yang diadakan di wilayah bisnis di Manila, Filipina sebagai bagian dari Program Persiapan Menghadapi Bencana.

Para pejabat dari lima belas negara Asia berkumpul di Bangkok hari Rabu untuk pertemuan dua hari mengenai Persiapan Menghadapi Bencana Asia (ADPC).

Kelompok nirlaba ADPC bertujuan membuat kawasan itu lebih aman dengan mengurangi risiko bencana di kawasan itu melalui kerjasama dan pendidikan.

Para delegasi yang menghadiri pertemuan itu menyambut baik upaya-upaya kerjasama untuk mencegah dan mengatasi bencana.

Nicholas Rosellini, Wakil Direktur Program Pembangunan PBB untuk wilayah Asia dan Psifik, mengatakan sejak lama penanggulangan risiko dan kerjasama internasional di negara-negara seperti Vietnam dan Bangladesh berhasil mengurangi kerusakan yang disebabkan bencana alam.

“Angin puting beliung Sidr, yang melanda Bangladesh, mengakibatkan 4.000 orang tewas. Tetapi, jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan 140.000 orang yang tewas dalam bencana angin puting beliung tahun 1991 dan lebih dari setengah juta yang tewas tahun 1970,” ujarnya.

Para delegasi juga mengatakan keperluan untuk kerjasama lebih jauh di Asia Pasifik, yang dipandang sebagai kawasan yang rawan bencana di dunia.

Noeleen Heyzer, Ketua Komisi Sosial dan Ekonomi PBB untuk Asia Pasifik, mengatakan gempa dan tsunami di Jepang memperlihatkan tidak ada negara yang punya kemampuan melakukan persiapan bencana sendiri.

Heyzer menjelaskan, “Kerusakan dan kerugian yang dialami negara kaya dan selalu siap siaga seperti Jepang hanya memusatkan perhatian pada kebutuhan untuk perencanaan dan persiapan konstan untuk menghadapi bencana. Karena perubahan iklim ancaman bencana alam akan menjadi lebih buruk di wilayah-wilayah perkotaan Asia dan negara-negara kepulauan di Pasifik.”

Asia Pasifik mengalami peristiwa-peristiwa alam yang ekstrem yang menurut banyak pakar mungkin disebabkan oleh perubahan iklim.

Kawasan ini setiap tahun mengalami badai tropis yang berbahaya, kekeringan, banjir, dan tanah longsor.
Nadeem Ahmed, Ketua Badan Penanggulangan Bencana Nasional Pakistan, mengatakan bahwa pada dasawarsa lalu di Asia frekuensi dan besarnya bencana meningkat, dan perubahan iklim memperburuk situasi itu.


Kamis, 03 Maret 2011 , 02:52:00
Indonesia Peringkat 3 Paling Rawan Bencana Alam
JAKARTA — Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, berada pada pertemuan tiga lempeng utama dunia yakni lempeng Indo Australia, Eurasia dan Pasifik. Kondisi ini membuat negara ini sangat berpotensi dilanda gempa bumi dan berujung tsunami.

Indonesia juga mempunyai 129 gunung api aktif, 80 diantaranya berbahaya. Bencana alam lainnya yang seringkali melanda Indonesia adalah tsunami, angin topan, banjir.

Mengantisipasinya, dilaksanakan Asean Regional Forum Disaster Relief Exercise (ARF DiREx). Forum ini dibentuk sebagai latihan antisipasi terjadi bencana gempa dan tsunami. Tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah dan pelaksanaannya akan digelar di Manado, Sulawesi Utara (Sulut) 13-19 Maret mendatang.

Mengenai persoalan bencana, Menteri Komunikasi dan Informasi, Tifatul Sembiring mengatakan, data yang ada menyebutkan 60 persen bencana di dunia terjadi di Asia. Dan Indonesia berada pada urutan ke tiga paling rawan bencana di Asia. “Setelah Cina dan Filipina,” katanya saat jumpa pers di kantor Menkominfo, Rabu (2/3).

Ia menambahkan, latihan antisipasi bencana dalam ARF DiREx ini ditujukan untuk mempersiapkan penanganan darurat bencana gempa bumi dan tsunami. “Dapat dimanfaatkan untuk menguji kesiapan nasional dan negara peserta dalam penanganan bencana yang melibatkan bantuan asing,” terangnya.

Tifatul menerangkan, setiap pelaksanaan ARF DiREx, negara berkembang akan didampingi negara maju. “Kali ini, Indonesia akan didampingi Jepang sebagai ketua bersama,“ katanya.

"Ini sangat urgent bagi kita dalam mengantisipasi terjadinya bencana. Bila ada kejadian, negara-negara anggota bisa saling membantu,” katanya.

Menkokesra Agung Laksono yang ikut hadir dalam jumpa pers mengatakan, Indonesia telah siap menjadi tuan rumah. “Indonesia, bersama Jepang menjadi ketua bersama dalam kegiatan internasional ini,” kata Agung.

Ia menambahkan, kegiatan yang menelan biaya sekitar Rp63 miliar ini merupakan momentum sangat penting karena bertepatan dengan ditetapkannya Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono sebagai ketua ASEAN.

Pelaksanaan ARF DiREx akan dilaksanakan di Sulawesi Utara meliputi pulau Bunaken, Siladen, Mantehage, pesisir Maasing, bandara Sam Ratulangi, kecamatan Wori (Minut), dan Pelabuhan Bitung.(sto/jpnn)

Tidak ada komentar:

Check Harga & Booking Langsung Online, Jangan Tunggu Habis / Harga Naik?

Peta Rute, Harga & Booking Ticket Online ( klik kota asal & tujuan, terlihatlah )

Tweet Tentang #Bali #Indonesia